Pentingnya Kesehatan Mental
Seberapa
pentingkah kesehatan mental kita?
Banyak
orang yang pandai menutupi bahwa dirinya terlihat baik-baik saja, padahal apa
yang terjadi dalam dirinya seringkali berbanding terbalik dengan mimik wajahnya.
Mencintai diri sendiri dan kesehatan mental itu saling berkesinambungan, karena
memerdekakan jiwa, batin, raga, memerdekakan diri sendiri itu penting sebelum
kita memerdekakan orang lain. Perbanyak bersyukur, selalu berpikiran positif
juga menjauhkan kita dari rasa keterpurukan terhadap diri sendiri. Sebelumnya perkenalkan saya Akhmad Firdaus mahasiswa baru Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Program Studi Agroekoteknologi. Namun pertama-tama apakah kita sudah paham apa itu “Mental Health” atau kesehatan mental? Dilansir
dari laman kemenkes.go.id kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita
berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk
menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Dapat kita
ketahui bahwa seseorang yang bermental sehat dapat menunjang untuk mengeluarkan
kemampuan dan potensi diri secara maksimal dalam melewati tantangan kehidupan
serta dapat menjalin hubungan dengan orang lain disekitarnya. Namun apabila hal
yang terjadi sebaliknya jika kesehatan mental kita terganggu atau disebut juga
dengan “Mental Illnes” maka akan mengalami gangguan suasana hati merasa cemas
berkepanjangan, kemampuan berpikir yang kurang stabil, serta kendali emosi yang
pada akhirnya bisa mengarah pada perilaku negatif. Maka dari itu kita
harus peduli seberapa pentingnya kesehatan mental terutama bagi generasi
milenial dan gen Z.
Berdasarkan data WHO tahun 2018, depresi merupakan
gangguan jiwa yang paling sering terjadi dan menjadi salah satu penyebab utama
disabilitas. Lebih dari 300 juta penduduk dunia mengalami depresi. Masalah
kejiwaan lainnya yang sering terjadi adalah bipolar, dimana sekitar lebih dari
60 juta penduduk dunia menderita penyakit ini, Sementara, masalah kejiwaaan
berat yang sering terjadi adalah skizofrenia dan psikosis lainnya, sekitar 23
juta orang di dunia mengalaminya. Dalam kurun
waktu 10 tahun terakhir perilaku bunuh diri karena depresi telah mencapai angka
yang kritis. Psikiater Fakultas Kedokteran Unpad Teddy Hidayat mengatakan, pada
prinsipnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan kematian. Ia mengungkapkan
mereka bunuh diri bukan karena menginginkan kematian, melainkan tidak dapat
menemukan jalan keluar dalam menyelesaikan masalah. Menurutnya, untuk mengatasi
hal tersebut apakah itu keluarga, teman, guru, dokter atau perawat harus
bertugas mencari jalan keluar agar tidak bunuh diri. Maka dari itu salah satu
paya yang dapat dilakukan
Secara global WHO menyebutkan lebih
dari 800.000 orang meninggal setiap tahunnya atau sekitar 1 orang setiap 40
detik bunuh diri. Sedangkan di Negara Indonesia sendiri dilihat dari
data Riset Kesehatan Dasar 2013 hingga 2018 angka prevelensi gangguan mental
meningkat hingga mencapai angka 9.8 dan bisa dikatakan menjadi angka tertinggi
dalam sejarah modern kesehatan Indonesia. Dilihat dari data tersebut bahwa
penderita gangguan kesehatan mental di Indonesia tidak bisa dikatakan sedikit,
oleh karena itu perlu perhatian khusus dan kepedulian dalam menangani atau
pengobatan yang tepat. Maka dari itu salah satu upaya yang dapat dilakukan
untuk menekan keinginan bunuh diri, perasaan cemas, serta depresi diperlukan
kesadaran kita untuk menceritakan kesehatan mental kepada orang terdekat. Kita harus
berusaha lebih terbuka dalam mencurahkan permasalahan apa yang sekarang sedang
kita hadapi kepada orang tua, sahabat, maupun teman-teman terdekat kita. Namun di
Indonesia kesehatan mental belum menjadi kebutuhan yang dianggap penting,
bahkan masyarakat seringkali memandang miring orang penderita gangguan mental
yang hendak mengungkapkan permasalahannya.
Komentar
Posting Komentar