Aksikan Tindakan Untuk Berada di Garis Terdepan
Lakukan Tindakan dan Buktikan Kita Layak Berada di Garis Terdepan
Soal bangkit dari keterpurukan, hampir putus asa, menyerah ditengah jalan, lalu tidak melanjutkan karena banyak penghambat yang berdatangan, besarnya gelombang yang menerpa kita dalam berlayar. Melanjutkan atau mundur pilhan itu ada ditangan kita masing-masing, untuk menentukan itu kita seharusnya paham bagaimana cara mencintai, meyakinkan, memotivasi menyayangi diri kita sendiri. Memang mudah mengeluarkan kata-kata untuk memberi motivasi orang lain, tapi yang sulit itu kita terkadang masih kebingungan bagaimana mencintai diri sendiri, agar kita bisa melewati gelombang yang besar itu kita perlu keberanian dalam mengambil suatu keputusan.
Aku disini akan bercerita motivasi hidup yang membuat aku menemukan cara bagaimana memahami, menerima, mencintai diri sendiri yang aku dapatkan dari orang-orang hebat selama bertumbuh dan berkembang sampai sekarang di usiaku 18 tahun. Yang pertama yaitu seorang ibu yang begitu paham dengan diriku, karena aku paling dekat dengan ibu dari kecil. Pada waktu kecil ibuku sering membawaku ke sekolah tempat dia bekerja, sampai aku TK aku disekolahkan didekat tempat kerja ibuku. Tidak seperti anak yang lain diantar ke TK lalu ditunggu sampai pulang, lalu diantar pulang, sedangkan aku hanya diantar lalu ditinggal ibu untuk bekerja lagi, bahkan aku pulang jalan kaki bersama seorang teman untuk menyusul ke sekolah ibuku. Dari situ aku belajar bahwa ibuku mengajarkan tentang kemandirian, keberanian sejak dini, dari situ pula lah aku sadar bahwa keberanian, kemandirian sejak dini itu penting. Dari keberanian tersebut semakin aku besar keberanianku juga semakin bertumbuh. Pada waktu SD aku mulai mencoba mengikuti lomba berpidato, walaupun pada awalnya ibuku kurang percaya bahwa aku bisa, justru itu membuatku lebih semakin tertantang untuk membuktikan, semakin membakar semangatku untuk berjuang lebih keras, dan alhasil dari lomba tersebut aku bisa tembus sampai provinsi untuk mewakili kabupaten, dan membuat kedua orang tuaku bangga bahkan hampir tidak percaya bahwa aku berhasil menjadi juara.
Bertumbuh jadi anak SMP aku mulai mengikuti kegiatan bela diri yaitu pencak silat disini hobi ku bisa tersalurkan, terasah, dan mentalku terbentuk. Sejak SMP aku pertama kali diajarkan teknik silat oleh pelatihku yang bernama Syaifudin Zuhri, dan aku biasa memanggil beliau Om Din, dia berprofesi sebagai POLISI (Brimob), tentu saja yang mempunyai latar belakang yang tegas, disiplin, dan berwibawa. Beliau menerapkan kedisiplinan dan ketegasan itu dalam melatihku pencak silat. Kedisiplinan, keberanian mulai terbentuk mulai terasah dalam diriku. Memasuki masa SMA aku mulai memberanikan diri untuk turun di gelanggang pertandingan, lagi lagi ibu meragukanku bahkan sampai melarang aku untuk ikut bertanding, hingga pada suatu waktu aku diberi pilihan, “pilih sekolah atau silattt?”, tentu aku hanya terdiam langsung meneteskan air mata, merasa selama ini aku latihan hanya percuma. Seketika semangatku hampir luntur, tapi aku mengingat mengapa aku memulai dari awal, sejak itu juga malam-malam aku bergegas diam-diam pergi untuk ke tempat latihan lagi. Berhari-hari aku memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa diizinkan berangkat dan mengikuti lomba. Pada suatu hari ayahku memberi penjelasan kepada ibu ku, lalu semangatku semakin membara untuk bisa ikut lomba dan kembali membuktikan kepada ibu.
Apabila urusan perlombaan ayahku selalu mendukung, singkat cerita alhasil aku bisa membuktikan kembali kepada ibu karena aku berhasil mendapat juara lagi. Pelan-pelan ibu mulai memahami aku di bidang silat ini.
Dibalik kemenanganku dalam lomba silat tentu ada sosok pelatih yang luar biasa memahamiku, dan membuat aku semakin percaya diri, mencintai diri sendiri dan bersyukur. Sosok pelatih itu biasa kupanggil Mas Yos, dia bukan hanya mengajarkan ilmu silat semata, tetapi dia juga banyak mengajarkan ilmu kehidupan, beliau orang yang sangat sabar, orang hebat, selalu memberikan masukan yang luar biasa, selalu mensupport ku untuk meyalurkan prestasi di bidang silat ini. Beliau selalu mengajarkan apa itu asah asih asuh dalam berorganisasi. Dari situ aku mulai belajar untuk bagaimana cara menyayangi diri sendiri itu penting, untuk mengembangkan potensi diri lalu berani terjun, bahkan keluar dari zona ternyaman, untuk menempa, membentuk diri menjadi lebih maju kedepan hingga bisa membuktikan kepada orang yang meragukan bahwa kita pantas mendapatkan kesuksesan di garis terdepan. Ingatlah mengapa kita berani memulai sesuatu dan harus menyelesaikannya. Dari pengalaman aku bisa belajar banyak hal.
Kita pasti bisa melewati gelombang yang begitu besar dengan adanya suatu keyakinan, tekad kuat yang dibangunkan dari dalam diri sendiri untuk tetap berlayar, hingga orang-orang di dermaga menyambut dengan penuh suka cita melihat kita berhasil sampai ke tujuan.
Terima kasih untuk orang luar biasa yang ada di hidupku, aku berharap semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah yang telah aku dapatkan selama ini. Terima kasih untuk diriku yang masih mau terus berjuang hingga beribu garis finish kehidupan nantinya dapat kulewati.
***
Akhmad Firdaus
Komentar
Posting Komentar